22
Desember 2005 – The Review of Religions, October 1992
Oleh
: Arshad Khan
Penerjemah
: Qurrotul Ain
Sumber
: http://www.alislam.org/library/links/00000129.html
Publikasi
oleh : www.ahmadiyya.or.id
Dunia Timur Dekat kuno-khususnya di wilayah – wilayah di
Mesir dan tanah – tanah di timur laut Mediterania ( Asiria dan Media) awalnya
didominasi dunia politeisme, yaitu pada abad ke-7 SM (Historical Atlas of the
World, hal. 3). Penduduk di tanah-tanah tersebut memuja berbagai macam dewa.
Beberapa dewa dihubungkan dengan kesejahteraan di kota kecil maupun besar di
lokasi daerah tertentu, sepeti dewa Marduk di Babilionia atau dewa Ra
Heliopolis di Mesir. Beberapa dewa lainnya juga dianggap bertanggung jawab
dalam memenuhi kehidupan dan kesejahteraan manusia selama waktu perang dan
keadaan tidak aman – sepeti dewa Bal untuk orang – orang kanaan dan dewa Ishtar
untuk orang – orang Babilonia dan Asiria. (The Heritage of World Civilizations,
hal. 54)
Diantara berbagai kelompok budaya dan keyakinan
politeisme, munculah sebuah tradisi besar yang selanjutnya mempersatukan
pondasi 3 agama besar di dunia: agama Yahudi, Kristen dan Islam. Tiga agama ini
dapat dihubungkan dengan satu tradisi agama yang secara umum memiliki kaitan
dengan masa kenabian Ibrahim. Tradisi pokok beragama ini membentuk dasar solid
yang darinya tiga agama ini telah dibangun di atas rangkaian sejarah dan darinya
masing- masing agama telah membangun keyakinan – keyakinan serta cita –cita
berbeda dan membuat mereka terlepas satu sama lain.
Perbedaaan fundamental yang memisahkan tradisi beragama 3
agama dapat dipersatukan dengan konsep monotheisme:
keimanan kepada sesuatu yang tunggal, Tuhan Yang Maha
Perkasa satu-satunya Sang Pencipta), Maha Pemberi dan Maha Menguasai alam
semesta. (Ibid hal . 56)
Hal itu benar – benar belum jelas terbukti, kapan doktrin
pertama muncul dalam kehidupan. Para ahli sejarah pada umumnya setuju bahwa
konsep awal monotheisme telah menunjukkan suatu penampakan yang jelas di antara
sebuah suku nomadik (pengembara) yang disebut kaum Hebrew. (Ibid hal 56) pada
dasarnya, kesamaaan tradisi beragama yang dimiliki agama Islam, Kristen dan Yahudi
dapat dihubungkan dengan kaum ini. Pemahaman lebik baik tentang sejarah suku
ini bisa bermanfaat di dalam memahami secara umum asal mula agama – agama
monotheisme saat sekarang.
Tidak ada catatan berharga tentang kehidupan orang – orang
Hebrew. Meskipun demikian, para cendekiawan setuju dengan catatan-catatan yang
berhubungan dengan kitab injil yaitu migrasi kaum Hebrew ke wilayah Timur Dekat
Mesopotamia adalah masuk akal dan sesuai pula dengan yang diketahui secara umum
jika telah ada perjalanan migrasi yang dilakukan oleh suku – suku semi –
nomadic. ( Ibid, hal 57) Tradisi – tradisi bersejarah dan bernilai agama
menyebutkan bahwa Bapak Ibrahim berasal dari Mesopotamia dan telah bermigrasi
ke timur bersama pengikutnya, kaum Hebrew, mereka menempati daerah sepanjang
pantai timur laut Meditarania, di area yang sekarang dikenal sebagai Palestina.
(Ibid, p. 56)
Ibrahim telah membawa ide – ide keyakinan monotheisme, ide
yang kemudian akan terbukti terus bertahan dalam kurun waktu yang panjang di
area ini. Keyakinan monotheisme menekankan pada tuntutan-tuntutan moral dan
tanggung jawab - tanggung jawab individu dan masyarakat terhadap
penyembahan Kepada Tuhan, Sang Maha Penguasa segala sesuatu. Terlebih lagi,
keyakinan pada Tuhan Yang Satu menekankan pada ide bahwa Tuhan telah membuat
rencana rohani untuk sejarah manusia, dan tindakan – tindakan dan cita – cita
orang – orang pilihan-Nya adalah ikatan yang tak bisa lepas dari rencana rohani
ini. (Ibid, hal C-1) Pada puncaknya tradisi ini menempatkan Ibrahim diakui
sebagai pendiri kepercayaan monotheisme oleh pengikut tiga agama tersebut:
Islam, Yahudi dan Kristen. Para pengikut Ibrahim mewariskan tradisi ini dari
generasi ke generasi, memperkuat dan menyatukan semua orang di tanah Palestina
dengan kepercayaan kepada Tuhan dan dengan perjanjian yang telah dibuat oleh
orang – orang pilihan-Nya. Pada abad ke – 13 SM peranan Musa telah terbukti
menjadi sebuah kekuatan persatuan besar yang sungguh benar – benar menempa
bangsa Israel. Selama kurun waktu Musa, konsep perjanjian ini diulang-ulang dan
ditempatkan kembali diantara keturunan Ibrahim.
Pentingnya Perjanjian ini dapat dikenal secara dekat dengan analisa
scriptural (dari kitab-kitab suci) tiga agama tersebut. Tiga cabang keyakinan
monoteisme yang pada awalnya dikenalkan oleh Ibrahim di daerah Palestina
tersebut, mengakui dan mencatat peristiwa – peristiwa tersebut di dalam tulisan
– tulisan agama mereka:
“Dan Musa menuliskan semua firman – firman Tuhan, dan bangun pada pagi
awal dan membangun sebuah altar di bawah bukit, dan dua belas pillar (tiang)
sesuai dengan jumlah 12 suku Bani Israil …dan Musa mengambil sebagian darah
seekor lembu jantan , menempatkan di dalam sebuah wadah lalu memercikan
sebagian lain darah tersebut di atas altar. Dan dia mengambil kitab perjanjian
dan membacakannya di depan orang – orang yan hadir: lalu mereka mengatakan,
semua yang difirmankan atas nama Tuhan akan kami laksanakan dan mereka taat.”
(Keluaran: 24: 4, 6, 7)
Hal yang sama juga dikenal di dalam agama Islam yaitu perjanjian kaum
Hebrew dengan Tuhan. Disebutkan di dalam Quran Suci, kitab suci kaum Muslim;
bahwa mereka harus mengingat ketika sebuah perjanjian dengan Tuhan telah
diambil oleh sekelompok manusia:
Hai Bani Israil , ingatlah akan ni’mat-Ku yang telah Aku anugerahkan
kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku , niscaya Aku penuhi janji-Ku
kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut. ( Alquran: 2: 41)
Hai Bani Israil, ingatlah akan ni’mat-Ku yang telah Aku anugerahkan
kepadamu dan bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat. (Alquran:
2:48).
Dan, ketika Kami berikan kepada Musa Al Kitab dan keterangan yang
membedakan antara yang benar dan yang salah, agar kamu mendapat petunjuk.
(Alquran: 2:54)
Dan, ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung
di atasmu : “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah
selalu apa yang ada didalamnya, agar kamu bertakwa. (Alquran: 2:64)
Kebutuhan mengutip catatan – catatan dari bagian kitab-kitab ini selanjutnya
terlihat ketika seseorang berusaha menghubungkan dan membandingkan keyakinan –
keyakinan pokok lainnya di dalam 3 agama ini. Salah satunya adalah ketika
tradisi yang dibawa Ibrahim lalu diperkuat dan ditempatkan kembali oleh Musa
muncul dan dikenal oleh 3 agama ini. Ini adalah point lazim yang ada di dalam
keyakinan tiga agama tersebut: Penegasan dan pengakuan tentang perjanjian yang
telah dibuat oleh kaum Hebrew di Palestina dengan Tuhan. Hal yang membentuk
pondasi dasar untuk agama – agama monotheisme.
Ada kesamaan lain lagi yang ada diantara 3 agama ini yaitu kedekatan
kekerabatan secara geografi. Hal itu bukan suatu kebetulan. 3 agama terbesar di
dunia ini memiliki asal muasal keturunan yang sama. Adalah kenyataan jika
Ibrahim adalah bapak agama bagi 3 agama besar ini juga ditandai dengan tempat
dimana beliau hidup dan beliau mengarahkan kaumnya akan sebuah tempat dimana 3
agama ini akan menuju. Daerah Timur Dekat , terdiri dari daerah Palestina,
Semenanjung Sinai, Semenanjung Arabia (khususnya sebagian wilayah bagian
utara), dan daerah – daerah lainnya yang pada saat ini dikenal dengan nama
Turki dan Yunani- pada dasarnya mewakili tempat lahirnya 3 kepercayaan besar
ini.
Masih ada kesamaan lain diantara 3 agama ini yaitu keyakinan dan cita
– cita yang dicapai melalui doa dan permohonan, serta penegakkan hubungan
dengan Tuhan yang dapat menentukan kebaikan di dalam kehidupan dan menciptakan
rasa damai terus menerus serta rasa ketenangan diri sendiri. Ini adalah akar pokok
semua ibadah agama monoteisme. Sang Maha Pencipta dipandang sebagai wujud yang
nyata secara aktif mengawasi tindakan – tindakan dan perbuatan- perbuatan
mahluk-mahluk ciptaan-Nya: demikian pula keyakinan tentang akan kembalinya
semua ciptaan kepada-Nya dan pada akhirnya berkumpulnya manusia kepada Sang
Pemurah dan Sang Penyayang. Pada dasarnya tujuan Tuhan menciptakan umat manusia
adalah karena suatu alasan baik:
Mereka diperintahkan untuk bersikap adil dan baik seperti halnya Sang
Pencipta, karena mereka dilibatkan untuk memenuhi tujuan penciptaan oleh-Nya.
(Craig, Albert, [The Heritage of World Civilizations, hal. 60])
Konsep ini diilustrasikan dalam firman Tuhan kepada orang – orang
Israel di dalam injil.
“Aku akan meletakkan hukumku dengan mereka, dan Aku akan menuliskannya
di dalam hati mereka: Aku akan menjadi Tuhan mereka dan mereka akan menjadi
pengikut-Ku.” (Yeremiah:31:33)
Tujuan Tuhan menciptakan manusia menurut keyakinan-keyakinan
monoteisme, adalah mengangkat dan meninggikan derajat manusia yang melakukan
perbuatan mulia dan berahklak unggul. Hal ini bisa dicapai seseorang atau
sekelompok orang dengan pemahaman jika mereka tercipta untuk suatu tujuan
kerohanian dan hal itu merupakan takdir penciptaannya. Orang orang yang beriman
diharapkan mengikuti ajaran – ajaran yang diberikan kepada mereka melalui kitab
– kitab suci mulia mereka dan mengimani tokoh – tokoh seperti Ibrahim, Musa dan
nabi- nabi lainnya yang telah diberi wahyu dan diberi petunjuk oleh Tuhan serta
mendapatkan tugas membimbing dan memperbaiki manusia. (Craig, Albert,[The
Heritage of World Civilizations, hal. 59])
Kepercayaan – kepercayaan yang telah disebutkan terdapat di dalam
keyakinan tiga agama tersebut. Mereka sama – sama memiliki keyakinan tentang
kehidupan, rasa kebersukuran bahkan meyakini keberadaan Tuhan sebagai pembentuk
serta pengatur kehidupan dan tindakan tiap – tiap individu. Keyakinan –
keyakinan ini telah mempererat pondasi yang pada dasarnya sama pada semua
kepercayaan monoteisme yang juga bermula dari Ibrahim. Point kesamaan ini juga
dijalankan sebagai kekuatan pemersatu yang menyatukan semua bangsa Israel di
bawah satu keyakinan dan satu Tuhan.
Agama Islam dan Kristen juga memiliki kepercayaan – kepercayaan ini.
Mengakui Semenanjung Arabia dan daerah Palestina sebagai tempat yang dihormati,
kedua agama ini mempercayai wujud Isa sebagai penyambung tradisi. Lain halnya
dengan agama Islam dan Kristen yang mempercayai Isa sebagai Nabi dan sang
Reformer, orang – orang Yahudi tidak mengakuinya.
Disinilah kesepahaman dan kesamaan diantara 3 agama ini berakhir.
Islam dan Kristen kesamaannya dengan Yahudi terputus ketika keduanya menghormati
kesucian dan kebenaran Isa. Ketiga agama ini sama – sama mempercayai Musa,
namun hanya dua agama yang mengakui kebenaran Isa. Kesamaan antara Kristen dan
Islam berakhir keterkaitannya ketika Islam mengakui Nabi Suci Islam sebagai
nabi yang benar yang Tuhan telah datangkan setelah Agama Yahudi dan Agama
Kristen yang kepadanya pula Tuhan telah memberikan hukum terakhir-Nya yan akan
memberi petunjuk bagi seluruh umat manusia. Sedangkan, Yahudi dan Kristen
menolak pernyataan ini. Oleh karena itulah agama – agama ini terpisahkan, dan
kesamaan mereka berakhir ketika mereka berbeda pendapat tentang Isa as. dan
Muhammad pbuh. Hanya Islam yang mengakui orang – orang pilihan Tuhan dan semua
nabi dari penokohan 3 agama-agama ini, namun sebaliknya dengan dua agama
lainnya.
Tiga agama tidak lagi memiliki kesamaan keyakinan setelah kepercayaan
kepada Musa. Islam mengakui ketiganya, Kristen mengakui dua, sedangkan yahudi
hanya 1 nabi yang diakui.
Namun, semua memiliki akar yang dalam di dalam stuktur monotoisme. Tradisi
ini diakui sebagai tulang punggung masing – masing agama ini. Perjanjian yan
diambil oleh Ibrahim lalu diperkuat oleh Musa dianggap sebagai garis persamaan
antara tiga agama terbesar dunia. Kesamaan geografi dan sejarah asal muasalnya
membawa tiga agama ini kepada kebersamaan dan kesatuan perspektif. Keistimewaan
inilah yang membuat agama—agama ini sungguh sama.
Tradisi agung yang telah membangun tiga agama ini menghubungkan asal
muasal dan kelahirannya ke kelompok kecil orang – orang Hebrew, yang bergaya
hidup dan memiliki habit sederhana. Mereka bukan produk suatu kekuatan
kekaisaran ataupun kebesaran kekaisaran (Ibid, hal. 56). Tradisi ini telah
melahirkan banyak hasil setelah jangka waktu panjang. Tradisi ini berkembang
secara bertahap dan melalui proses yang lambat- bukan periode singkat melalui
pergolakan dan kekacauan berbau agama. Waktu berselang antara kedatangan Musa
dan Muhamad pbuh yaitu 19 abad (1300 SM – 600 M). Suatu rangkaian waktu yang
monumental untuk proses perubahan dan perkembangan di dalam dunia agama.
Dengan demikian, pemahaman yang tepat tentang asal muasal keyakinan
monoteisme ini, memungkinkan seseorang mengerti dengan jelas tentang keluasan
ajaran Yahudi, Kristen dan Islam yang juga bisa dipertimbangkan sebagai bagian
kesamaan beragama dan bertradisi kerohanian: yaitu suatu tradisi yang dikaitkan
dengan waktu jaman Ibrahim, seorang pengembara sahaja yang memimpin para
pengikutnya menuju sebuah hunian yang lebik baik.
* *
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar