Kamis, 19 Januari 2017

Ahmadiyah Dalam Perspektif Akidah

Oleh: H.M. Syaeful Uyun (Mubaligh Jemaat Ahmadiyah Indonesia Wilayah Priangan Timur) 
Makalah ini diisajikan dalam Focus Group Discussion ISAIs UIN Sunan Kalijaga & Jemaat Ahmadiyah Yogyakarta di Ruang Pertemuan Gedung Rektorat Lt. 1 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Kamis 27 November 2014 

Ahmadiyah: Sekilas Tentang Organisasi
Jemaat Ahmadiyah adalah organisasi dalam Islam bersifat global, didirikan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, (1835-1908), di kota Ludhiana, India, pada 23 Maret 1889 M, bertepatan dengan tahun 1306 H. 
Jemaat Ahmadiyah didirikan atas perintah Ilahi melalui Ilham yang diterima Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as: 
ﺍﺼﻨﻊﺍﻠﻔﻠﻚﺒﺂﻋﻴﻨﻨﺎﻮﻮﺤﻴﻨﺎﺍﻦﺍﻠﺬﻴﻦﻴﺒﺎﻴﻌﻮﻨﻚﺍﻨﻤﺎﻴﺒﺎﻴﻌﻮﻦﺍﷲﻴﺪﺍﷲﻔﻮﻖﺍﻴﺪﻴﻬﻢ 
Buatlah bahtera itu dengan pengawasan petunjuk wahyu Kami. Orang-orang yang bai’at kepada engkau, sesungguhnya mereka bai’at kepada Allah. Tangan Allah ada diatas tangan mereka.(2)
Jemaat Ahmadiyah adalah organisasi murni keagamaan, didirikan dengan tujuan:  ﻴﺤﻲﺍﻠﺪﻴﻦﻮﻴﻘﻴﻢﺍﻠﺸﺮﻯﻋﺔ - yuhyiddiina wa yuqiimusy-syari’ah – menghidupkan kembali agama dan menegakkan syari’at Islam, dan ﻠﻴﻈﻬﺮﻩﻋﻠﻰﺍﻠﺪﻴﻦﻜﻠﻪ - liyudhirahu ‘alad-diini kullihi - memenangkan Islam di atas semua agama. 
Sebagai organisasi murni keagamaan, Jemaat Ahmadiyah, berlepas diri dari kancah politik praktis. Jemaat Ahmadiyah hanya fokus pada bidang agama (dakwah). Missi dakwah Jemaat Ahmadiyah saat ini telah berkembang di 206 negara dengan jumlah pengikut lebih dari 200 juta jiwa. 
Sejak berdiri, 1889-1947, Jemaat Ahmadiyah berpusat di Qadian, India. Sejak 1947-hingga sekarang, Jemaat Ahmadiyah berpusat di Rabwah, Pakistan. Namun, sejak 1984, organisasi dikendalikan dari London, Inggris, karena Khalifatul Masih, Imam Jemaat Ahmadiyah, berkedudukan di London, Inggris, hingga sekarang. []

Ahmadiyah: Profil Pendiri dan Khilafahnya
Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, adalah seorang ahli tasawwufmodern dan termasuk sufi besar abad 14 H. Pada 1888 beliau memproklamirkan diri sebagai Mujaddid abad XIV H, dan pada 1889 beliau mendirikan Jemaat Ahmadiyah. Pada 1890 beliau memproklamirkan diri sebagai Al-Masih dan Al-Mahdi Yang Dijanjikan kedatangannya oleh Nabi Muhammad Saw. Sepanjang hayatnya beliau menulis lebih dari 80 judul buku. Beliau wafat pada 26 Mei 1908 di Lahore, dan dikebumikan di Qadian, tempat asal kelahirannya.
Setelah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, wafat (1908), Jemaat Ahmadiyah di pimpin seorang Khalifah (pengganti), yang dikenal dengan sebutan: Khalifatul Masih. Diberi nama Khalifatul Masih karena ia pengganti dari Al-Masih al-Mau’ud - Al-Masih Yang Dijanjikan Kedatangannya oleh Nabi Muhammad Saw. Sepanjang 106 tahun terakhir (1908-2014), lima orang Khalifatul Masih telah dan sedang memimpin Jemaat Ahmadiyah: 
1. Hadhrat Al-Haj Maulana Hakim Nuruddin ra. (Khalifatul Masih I – 1908-1914)
2. Hadhrat Al-Haj Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad ra. (Khalifatul Masih II – 1914-1965)
3. Hadhrat Mirza Nasir Ahmad ra. (Khalifatul Masih III – 1965-1982)
4. Hadhrat Mirza Tahir Ahmad rha. (Khalifatul Masih IV – 1982-2003)
5. Hadhrat Mirza Masroor Ahmad atba. (Khalifatul Masih V – 2003-Sekarang) 

Ahmadiyah: Latar Nama Ahmadiyah  
Nama Ahmadiyah diberikan bukan karena Sang Pendiri bernama Ahmad. Nama Ahmadiyah diambil dari nama lain Nabi Muhammad Saw, yaitu: Ahmad. 
Didalam Al-Quran, Nabi Muhammad Saw disebut bernama Ahmad: “Dan ingatlah  ketika Isa ibnu Maryam berkata, “Hai, Bani Israil, sesungguhnya aku Rasul Allah kepadamu membenarkan apa yang ada sebelumku yaitu Taurat, dan memberi khabar suka tentang seorang rasul yang datang sesudahku namanya Ahmad.” Maka tatkala ia datang kepada mereka dengan bukti-bukti jelas, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.”(5)   
Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Pendiri Jemaat Ahmadiyah, mengambil nama Ahmad Nabi Muhammad Saw, untuk nama organisasi yang didirikannya, karena menurut beliau, zaman ini adalah zaman kebangkitan kembali Islam untuk kedua kalinya dan untuk selama-lamanya, yang akan dicapai dengan penzahiran sifat Ahmad-nya Nabi Muhammad Saw. 
Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Imam Mahdi-Masih Mau’ud as: 
“Mengapa golongan ini diberi nama Ahmadiyah? Sebabnya karena Nabi Besar Muhammad Saw., memiliki dua nama, yaitu Muhammad dan Ahmad. Nama Muhammad adalah nama yang bersifat Jalali (gagah) yang didalamnya mengandung nubuwatan bahwa Beliau Saw, akan menghukum para musuh dengan pedang karena mereka telah menyerang Islam dengan pedang pula dan telah membunuh banyak sekali orang Islam. Akan tetapi nama Ahmad adalah nama yang bersifat Jamali (lemah-lembut) yang memiliki maksud bahwa Yang Mulia Saw, akan menyebarkan kedamaian dan keindahan (Islam) ke seluruh dunia. Singkatnya Allah Ta’ala telah memberikan dua nama tersebut dengan tujuan: Pertama, Yang Mulia Rasulullah Muhammad Saw, menzahirkan nama Ahmad-nya pada masa awal kehidupan Islam di Makkah, yang mengajarkan keteguhan dan kesabaran. Kedua, kemudian Beliau Saw, menzahirkan nama Muhammad-nya dalam  masa kehidupan di Madinah dan di sana berdasarkan kebijakan Allah Ta’ala sesuai kondisinya terpaksa harus membalas, menghukum dan menghancurkan para penentang Islam. Akan tetapi sudah dinubuwatkan bahwa nanti di Akhir Zaman nama Ahmad akan dizahirkan kembali melalui seseorang yang dengan perantaraannya sifat Ahmad (lemah-lembut) dari Rasulullah Muhammad Saw, akan di zahirkan kembali. Dan beliau akan menghabiskan (menghilangkan) semua peperangan. Maka berdasarkan hal inilah nama golongan ini sangat tepat diberi nama Jemaat Ahmadiyah supaya setiap orang begitu mendengar nama ini dapat memahami bahwa golongan ini datang ke dunia untuk menyebarkan perdamaian dan persaudaraan serta golongan ini sedikit pun tidak ada hubungannya dengan peperangan, perkelahian, dan tindakan anarki. Maka, wahai Saudara-saudara! Nama ini penuh berkah bagi anda dan bagi setiap orang yang mencari aman dan kedamaian. Nama golongan ini memberikan khabar suka tentang keamanan dan kedamaian. Golongan yang penuh berkah ini sudah banyak ditulis dan disebut dalam kitab para Nabi terdahulu serta banyak sekali isyarat atau tanda-tanda akan kemunculannya. Tuhan telah memberkahi nama ini. Wahai Tuhan! Masukanlah orang-orang Islam di seluruh belahan bumi kedalam golongan yang berberkah ini supaya racun pertumpahan darah manusia hilang sirna secara total dari hati mereka dan mereka menjadi abdi-abdi Engkau. Wahai Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana! Jadikanlah demikian”.(6)
Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, Khalifatul Masih-Imam Jemaat Ahmadiyah ke-II ra, menjelaskan: Nama Ahmadiyah tidak menunjukan agama baru. Nama Ahmadiyah dimaksudkan supaya Jemaat ini dapat ditampilkan kepada dunia, nyata bedanya daripada kalangan lain  yang juga menyebut dirinya orang Islam. Dewasa ini tiap-tiap golongan menamai diri masing-masing menurut daya khayal masing-masing. Nama Ahmadiyah diambil dengan tujuan untuk membedakan dengan golongan lain yang didirikan menurut daya khayal mereka masing-masing.(7)
Ciri paling menonjol yang membedakan Ahmadiyah dengan golongan lain terletak pada namanya: Ahmadiyah, yang menampilkan kecantikan, keindahan, dan ketinggian akhlaq Nabi Muhammad Saw, santun, toleran dan damai. Missi perjuangan Ahmadiyah pun: ﻴﺤﻲﺍﻠﺪﻴﻦﻮﻴﻘﻴﻢﺍﻠﺸﺮﻋﺔ dan ﻠﻴﻈﻬﺮﻩﻋﻠﻰﺍﻠﺪﻴﻦﻜﻠﻪ, akan ditempuh,  hanya dengan menampilkan keindahan, kecantikan, dan ketinggian akhlaq Nabi Muhammad  Saw, yakni dengan cara-cara yang santun, toleran dan damai. Jemaat Ahmadiyah mempunyai motto: Islam = Peace (Islam = Damai). Ahmadiyah = Love for All Hatred for None. (Ahmadiyah = mencintai semua orang, tidak membenci siapa pun). 
Berlatar nama Ahmadiyah, yang menampilkan kecantikan, keindahan, dan ketinggian akhlaq Nabi Muhammad Saw, Jemaat Ahmadiyah pun dimana-mana, dan kemana-mana di seluruh dunia, selalu mengampanyekan: 
Loyalty – Kesetiaan (kepada bangsa dan negara)
Freedom – Kemerdekaan (kemerdekaan dari penjajah, kemerdekaan dari nafsu, kemerdekaan beragama dan beribadah menurut ajaran agama dan kepercayaan)
Equality – Kesetaraan (antara satu suku bangsa dengan bangsa lain, antara bangsa berkulit putih atau hitam, antara laki-laki dan perempuan)
Respect – Menghargai, Menghormati (antara satu suku bangsa dengan bangsa lain, antara satu agama dengan agama lain, dan antara satu aliran dengan aliran agama yang lain)
Peace – Damai (antara satu suku bangsa dengan bangsa lain, antara satu agama dengan agama lain, antara satu aliran agama dengan aliran agama yang lain)
Love for all hatred for none – mencintai semua orang, tidak membenci siapa pun. []

Ahmadiyah: Sumber Pokok Ajaran 
Sebagai organisasi Islam, Jemaat Ahmadiyah tidak mempunyai sumber lain selain dua sumber pokok ajaran, yaitu: Al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad Saw. Jemaat Ahmadiyah meyakini, tiada agama kecuali Islam, tiada kitab suci kecuali Al-Quran, dan tiada panutan kecuali Baginda Nabi Muhammad,  Khatamun-Nabiyyin Saw. 
Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as: 

“Tidak ada agama bagi kami kecuali agama Islam dan tidak ada Kitab bagi kami kecuali Al-Quran Kitab Allah Yang Maha Tahu. Tidak ada Nabi panutan bagi kami kecuali Nabi Muhammad, Khatamun-Nabiyyin Saw”.(8) 

“Tidak ada kitab kami selain Al - Qur’an Syarif dan tidak ada Rasul kami kecuali Muhammad Musthafa Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Tidak ada agama kami kecuali Islam dan kita mengimani bahwa Nabi kita, Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam. adalah Khaatamul Anbiya, dan Al - Qur’an Syarif adalah Khaatamul Kutub”(9)  

Kepada para pengikutnya beliau juga memberi nasihat:


“Ada pula bagimu suatu ajaran yang penting, yaitu kamu hendaknya jangan meninggalkan Al-Quran sebagai benda yang dilupakan; sebab, justru di dalam Al-Quran-lah terdapat kehidupanmu. Barangsiapa memuliakan Al-Quran ia akan memperoleh kemuliaan di langit. Barangsiapa lebih mengutamakan Al-Quran dari segala Hadits dan dari segala ucapan lain, akan diutamakan di langit. Bagi umat manusia diatas permukaan bumi ini, kini tidak ada Kitab lain kecuali Al-Quran, dan bagi seluruh Bani Adam kini tidak ada seorang Rasul Juru Syafa’at selain Muhammad Musthafa Shalallaahu ’alaihi wasallam. Maka berusahalah untuk menaruh kecintaan yang setulus-tulusnya kepada Nabi Agung itu, dan janganlah meninggikan seseorang selain beliau dalam segi apa pun agar di langit kamu dicatat dalam daftar orang-orang yang memperoleh keselamatan”.(10)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar