Ajaranku Oleh Mirza Ghulam Ahmad.pdf
Selasa, 20 Juni 2017
Minggu, 18 Juni 2017
Brosur Tabligh Ahmadiyah Indonesia
Brosur Ahmadiyah Ahlus Sunnah Waljamaah.pdf
Brosur Api di Yaman OK 1 Nov 2015.pdf
Brosur Bai'at Sunnah Rasulullah.pdf
Brosur Dengan Cinta Damai, Kami Sebarkan Islam ke Seluruh Pelosok Dunia.pdf
Brosur Hadis-Hadis ttng Imam Mahdi OK.pdf
Brosur Hakikat Nabi.pdf
Brosur Imam Mahdi Sudah Datang.pdf
Brosur Islam Agama Sempurna dan Diridhai Tuhan.pdf
Brosur Islam Damai.pdf
Brosur JAI tdk sama dgn QIYADAH ok.pdf
Brosur Jihad Islam 2.pdf
Brosur Jihad Islam.pdf
Brosur Juru Selamat Bangsa.pdf
Brosur Nabi Isa Ibnu Maryam Sudah Wafat.pdf
Brosur Penjelasan Rukun Islam.pdf
Brosur Penjelasan Tentang Muhammad Khataman Nabiyyin.pdf
Brosur Penjelasan Tentang Rukun Iman.pdf
Brosur Selayang Pandang Ahmadiyah.pdf
Brosur Api di Yaman OK 1 Nov 2015.pdf
Brosur Bai'at Sunnah Rasulullah.pdf
Brosur Dengan Cinta Damai, Kami Sebarkan Islam ke Seluruh Pelosok Dunia.pdf
Brosur Hadis-Hadis ttng Imam Mahdi OK.pdf
Brosur Hakikat Nabi.pdf
Brosur Imam Mahdi Sudah Datang.pdf
Brosur Islam Agama Sempurna dan Diridhai Tuhan.pdf
Brosur Islam Damai.pdf
Brosur JAI tdk sama dgn QIYADAH ok.pdf
Brosur Jihad Islam 2.pdf
Brosur Jihad Islam.pdf
Brosur Juru Selamat Bangsa.pdf
Brosur Nabi Isa Ibnu Maryam Sudah Wafat.pdf
Brosur Penjelasan Rukun Islam.pdf
Brosur Penjelasan Tentang Muhammad Khataman Nabiyyin.pdf
Brosur Penjelasan Tentang Rukun Iman.pdf
Brosur Selayang Pandang Ahmadiyah.pdf
Kamis, 26 Januari 2017
Kumpulan Khutbah Jumaat Jamaat Ahmadiyah Langsung Download aja
Khutbah Ajaran Hadhrat Masih Mau ud as (Mirza Ghulam Ahmad). pdf
Khutbah Berjuang untuk mencapai Akhlak yang Luhur Ajaran-Ajaran Islam. pdf
Khutbah Butir-Butir Mutiara Hikmat dari Hadhrat Mushlih Mau’ud ra. pdf
Khutbah Esensi Tarbiyat Nasehat Bagi Para Pengurus Baru. pdf
Khutbah Intisari Pengorbanan Harta, Tahrik Jadid ke-83. pdf
Khutbah Jalan Menuju Evolusi Rohani. pdf
Khutbah Jalsah Salanah Jerman 2016. pdf
Khutbah Jumaat Keistimewaan Shalat Berjamaah. pdf
Khutbah Kesetaraan Keadilan dan Nurani yang Baik. pdf
Khutbah Khilafah Ahmadiyah. pdf
Khutbah Kunci Perdamaian dan Harmoni. pdf
Khutbah Makna Pentingnya Shalat Jumat. pdf
Khutbah Menyebarkan Ajaran Islam Yang Sejati. pdf
Khutbah Nabi Muhammad saw Rahmat bagi semesta alam. pdf
Khutbah Nyatakanlah Karunia-Karunia Ilahi. pdf
Khutbah Persiapan Jalsah Salanah UK 2016. pdf
Khutbah Ramadhan Ketakwaan dan Pembaharuan Diri. pdf
Khutbah Shalat dan Fiqih Masih Mau’ud as. pdf
Khutbah Tanda-Tanda Kebenaran. pdf
Khutbah Tentang Hakikat Shalat. pdf
Khutbah Tentang Kebaikan dan Keburukan. pdf
Khutbah Tujuan Penciptaan Manusia adalah Untuk Beribadah kepada Allah Ta’ala. pdf
Jika ada File Rusak dan tidak bisa di download harap pemberitahuannya agar filenya di perbaiki
Jazakumullah atas kunjungannya semoga bermanfaat
Khutbah Berjuang untuk mencapai Akhlak yang Luhur Ajaran-Ajaran Islam. pdf
Khutbah Butir-Butir Mutiara Hikmat dari Hadhrat Mushlih Mau’ud ra. pdf
Khutbah Esensi Tarbiyat Nasehat Bagi Para Pengurus Baru. pdf
Khutbah Intisari Pengorbanan Harta, Tahrik Jadid ke-83. pdf
Khutbah Jalan Menuju Evolusi Rohani. pdf
Khutbah Jalsah Salanah Jerman 2016. pdf
Khutbah Jumaat Keistimewaan Shalat Berjamaah. pdf
Khutbah Kesetaraan Keadilan dan Nurani yang Baik. pdf
Khutbah Khilafah Ahmadiyah. pdf
Khutbah Kunci Perdamaian dan Harmoni. pdf
Khutbah Makna Pentingnya Shalat Jumat. pdf
Khutbah Menyebarkan Ajaran Islam Yang Sejati. pdf
Khutbah Nabi Muhammad saw Rahmat bagi semesta alam. pdf
Khutbah Nyatakanlah Karunia-Karunia Ilahi. pdf
Khutbah Persiapan Jalsah Salanah UK 2016. pdf
Khutbah Ramadhan Ketakwaan dan Pembaharuan Diri. pdf
Khutbah Shalat dan Fiqih Masih Mau’ud as. pdf
Khutbah Tanda-Tanda Kebenaran. pdf
Khutbah Tentang Hakikat Shalat. pdf
Khutbah Tentang Kebaikan dan Keburukan. pdf
Khutbah Tujuan Penciptaan Manusia adalah Untuk Beribadah kepada Allah Ta’ala. pdf
Jika ada File Rusak dan tidak bisa di download harap pemberitahuannya agar filenya di perbaiki
Jazakumullah atas kunjungannya semoga bermanfaat
Rabu, 25 Januari 2017
Pengertian Jemaat, jemaah, jamaah...
Kita,
bangsa Indonesia, rupanya sulit bersepakat untuk hal-hal sederhana yang
seharusnya bisa disepakati. Paling nyata dalam bidang bahasa. Saya sulit
mengerti mengapa kata-kata serapan dari bahasa Arab--yang asalnya sama--diserap
secara berbeda-beda. Maka, satu kata versinya banyak sekali. Pusat Bahasa dan
ahli-ahli bahasa gamang.
Ketika aset-aset Ahmadiyah dirusak, ada teman yang bertanya:
"Mana yang benar: JEMAAT atau JEMAAH atau JAMAAH Ahmadiyah? Kalau JEMAAT
kan berbau Nasrani. Kalau JAMAAH, wong Ahmadiyah tidak diakui sebagai bagian
dari Islam. Lantas, bagaimana?"
Jawaban saya sederhana saja:
"Kita lihat papan nama. Tulisannya: JEMAAT AHMADIYAH. Yah, kita pakai saja
JEMAAT biar sesuai dengan cara orang Ahmadiyah menyebut organisasinya."
Saya buta bahasa Arab, tapi berdasar beberapa penjelasan ahli bahasa, kata-kata
ini akarnya sama. Tapi mengapa bisa berbeda-beda? Bahkan, ada JEMAAT yang
menurut kamus khusus dipakai untuk menyebut kumpulan orang kristiani. Saya tertawa
karena orang Kristiani di Indonesia hampir tidak ada yang paham bahasa Arab.
Kecuali beberapa gelintir teolog macam Remy sylado atau Bambang Noorsena atau
Romo Parera.
JEMAAT
Memang selalu dipakai di lingkungan kristiani, entah Katolik atau Protestan.
Ada buku KIDUNG JEMAAT. Surat-surat Paulus selalu ditujukan kepada JEMAAT. Ada
JEMAAT di Roma, Korintus, Galatia, Efesus, Kolose, Tesalonika.
Lagu-lagu liturgi Katolik selalu pakai JEMAAT. Contoh: JEMAAT ALLAH BERZIARAH.
Jemaat, Allah, ziarah, pastilah serapan dari bahasa Arab juga. Teman-teman
aliran Pentakosta punya denominasi SIDANG JEMAAT ALLAH sebagai terjemahan The
Assembly of God.
JEMAAH
Hampir sama dengan JEMAAT. Ada beberapa media merujuk ke komunitas muslim, tapi
tidak pernah untuk kristiani.
JAMAAH
Teman-teman editor di koran-koran Jawa Timur merasa istilah ini paling afdal
untuk merujuk komunitas islami. JAMAAH HAJI, tidak pernah JEMAAT HAJI. JAMAAH
salat Jumat. JAMAAH pengajian ibu-ibu. JAMAAH nahdlatul ulama. JAMAAH Ahmadiyah
tidak dipakai karena--itu tadi--dianggap sempalan Islam.
JAMAAH Gereja Kristen Bethel juga tak pernah dipakai karena dianggap janggal
oleh para editor. "Wong nasrani iku cocoke JEMAAT, bukan JAMAAH,"
kata seorang penyunting senior. Hehehe... Akar katanya kan sama, Bung! Tapi
saya orang biasa yang tidak mampu mengubah paadigma ini.
JAMIYAH
Ini juga khas islami, biasa dipakai untuk merujuk organisasi muslim.
Persoalan ini akarnya sederhana saja. Serapan kata-kata Arab sejenis
JEMAAH/JEMAAT, MUSYAWARAH/MUSYAWARAT, AMANAH/AMANAT, MUNAJAH/MUNAJAT/
IBADAH/IBADAT, HIKMAH/HKMAT... itu 'dimatikan' dengan fonem H atau T? Menurut
saya, Pusat Bahasa atau para pakar bahasa segera bikin kajian mendalam, lalu
bersepakat.
Dengan begitu, kita punya standar. Tidak ada lagi JEMAAT versi Kristen atau
Ahmadiyah atau JEMAAH atau JAMAAH yang bikin bingung itu. Macam Malaysia
itulah. Negara tetangga itu sudah punya pola penyerapan kata-kata Arab ke dalam
bahasa Melayu yang standar. Masa sih kita sebagai sesama bangsa Indonesia harus
terbedakan hanya gara-gara cara penyerapan kata-kata asing yang berbeda.
Saya sendiri merujuk pada Prof. Dr. Jos Daniel Parera, munsyi, pakar bahasa
dari IKIP Jakarta, yang pernah mengkaji kata-kata serapan dari bahasa Arab ini.
Yakni, memilih fonem T dan bukan H karena lebih konsisten dan sesuai dengan
standar penyerapan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun di bahasa kita.
Maka, saya sejak dulu menggunakan JEMAAT [tak peduli Islam, Kristen, Ahmadiyah,
Buddha, Hindu...], MUSYAWARAT, AMANAT, HIKMAT, IBADAT, MUNAJAT... dan
seterusnya.
Selasa, 24 Januari 2017
Kumpulan Buku Jemaat Ahmadiyah Langsung download saja
* Buku Pelatihan Da'i JAI
Buku Panduan Da'i Ilallah Denny.pdf
Buku Pintar Bertabligh.pdf
Buku Paket Mubayin Baru.pdf
Masalah Kenabian.pdf
Pengertian Nabi.pdf
Peristiwa Menggugah di Medan Tabligh AKQ.pdf
Selayang Pandang 1 Ahmadiyah.pdf
Selayang Pandang Ahmadiyah.pdf
Tiga Masalaah Penting.pdf
* Buku Malfuzat
Malfuzat Jilid I.pdf
Malfuzat Jilid II.pdf
Malfuzat Jilid III.pdf
Malfuzat Jilid IV.pdf
* Buku Tentang Nabi Muhammad saw
Benarkah Ahmadiyah Tidak Meyakini Nabi Muhammad sebagai Khataman nabiyin.pdf
Berkah Nabi Muhammad Nabi Terakhir.pdf
Nabi Muhammad dan Kristus Christ.pdf
Nabi Muhammad Prophet.pdf
Nabi Muhammad Worlds Criptures1.pdf
Pesan Rasulullah SAW.pdf
Riwayat Hidup Baginda Nabi Besar Muhammad Rasulullah SAW.pdf
Riwayat Hidup Hz Ahmad as.pdf
* Buku Tentang Ibadah Shalat
Daya Kekuatan Salat, Do'a. pdf
Doa-Doa Masih Mauud.as.pdf
Doa-Doa dari Al-Quran Hadits dan Wahyu Masih Mauud.as.pdf
Dzikir Setelah Sholat Fardhu Sesuai Sunnah Nabi Muhammad SAW.pdf
Tata Cara Whudhu dan Sholat Menurut Fiqh Ahmadiyah.ppt
Tata Cara Wudhu.pdf
Zikir Ilahi.pdf
*Buku Tentang Kristen Yesus / Nabi Isa as
Ajaran Kristen. pdf
Ajaran Yahudi.pdf
Buku Kristologi.pdf
Dimana Yesus Wafat.pdf
Jejak Yesus di India Holger Kersten.pdf
Nabi Isa dari Palestina ke Kashmir.pdf
Memecah Salib. pdf
Yesus di India.pdf
Yesus Wafat di Kashmir.pdf
Yesus Melihat Kesalahan.pdf
* Buku-buku Pilihan
12 Butir Pernyataan JAI. pdf
Abdus Salam TimTeng. pdf
Ahmadiyah Apa dan Mengapa. pdf
Ahmadiyah Dalam Perspektif Akidah dan Syari'ah. pdf
Ahmadiyah Menjawab Salman Rushdi.pdf
Almasih Sudah Datang.pdf
Apakah Ahmadiyah Itu ?.pdf
Benarkah Ahmadiyah Sesat. pdf
Bukan Sekedar Hitam Putih Edisi Revisi. pdf
Bukan Sekedar Hitam Putih.pdf
Buku Ajaranku. pdf
Buku Bahttrah Nuh.pdf
Buku Bai'at.pdf
Buku Filsafat Ajaran Islam. pdf
Buku Tentang Dajal. pdf
Declaration Of Initation Form Bai'at.pdf
Dialog Kenabian. pdf
Evolusi Manusia. pdf
Falsafah Islamiyah. pdf
Klasifikasi dan Katalogisasi. pdf
Buku Panduan Da'i Ilallah Denny.pdf
Buku Pintar Bertabligh.pdf
Buku Paket Mubayin Baru.pdf
Masalah Kenabian.pdf
Pengertian Nabi.pdf
Peristiwa Menggugah di Medan Tabligh AKQ.pdf
Selayang Pandang 1 Ahmadiyah.pdf
Selayang Pandang Ahmadiyah.pdf
Tiga Masalaah Penting.pdf
Malfuzat Jilid I.pdf
Malfuzat Jilid II.pdf
Malfuzat Jilid III.pdf
Malfuzat Jilid IV.pdf
* Buku Tentang Nabi Muhammad saw
Benarkah Ahmadiyah Tidak Meyakini Nabi Muhammad sebagai Khataman nabiyin.pdf
Berkah Nabi Muhammad Nabi Terakhir.pdf
Nabi Muhammad dan Kristus Christ.pdf
Nabi Muhammad Prophet.pdf
Nabi Muhammad Worlds Criptures1.pdf
Pesan Rasulullah SAW.pdf
Riwayat Hidup Baginda Nabi Besar Muhammad Rasulullah SAW.pdf
Riwayat Hidup Hz Ahmad as.pdf
* Buku Tentang Ibadah Shalat
Daya Kekuatan Salat, Do'a. pdf
Doa-Doa Masih Mauud.as.pdf
Doa-Doa dari Al-Quran Hadits dan Wahyu Masih Mauud.as.pdf
Dzikir Setelah Sholat Fardhu Sesuai Sunnah Nabi Muhammad SAW.pdf
Tata Cara Whudhu dan Sholat Menurut Fiqh Ahmadiyah.ppt
Tata Cara Wudhu.pdf
Zikir Ilahi.pdf
* Ayat-Ayat Pilihan
Ayat dan Surah Pilihan Hadhrat Khalifatul Masih Al-Khamis Ketika Shalat.pdf*Buku Tentang Kristen Yesus / Nabi Isa as
Ajaran Kristen. pdf
Ajaran Yahudi.pdf
Buku Kristologi.pdf
Dimana Yesus Wafat.pdf
Jejak Yesus di India Holger Kersten.pdf
Nabi Isa dari Palestina ke Kashmir.pdf
Memecah Salib. pdf
Yesus di India.pdf
Yesus Wafat di Kashmir.pdf
Yesus Melihat Kesalahan.pdf
* Buku-buku Pilihan
12 Butir Pernyataan JAI. pdf
Abdus Salam TimTeng. pdf
Ahmadiyah Apa dan Mengapa. pdf
Ahmadiyah Dalam Perspektif Akidah dan Syari'ah. pdf
Ahmadiyah Menjawab Salman Rushdi.pdf
Almasih Sudah Datang.pdf
Apakah Ahmadiyah Itu ?.pdf
Benarkah Ahmadiyah Sesat. pdf
Bukan Sekedar Hitam Putih Edisi Revisi. pdf
Bukan Sekedar Hitam Putih.pdf
Buku Ajaranku. pdf
Buku Bahttrah Nuh.pdf
Buku Bai'at.pdf
Buku Filsafat Ajaran Islam. pdf
Buku Tentang Dajal. pdf
Declaration Of Initation Form Bai'at.pdf
Dialog Kenabian. pdf
Evolusi Manusia. pdf
Falsafah Islamiyah. pdf
Klasifikasi dan Katalogisasi. pdf
Keberkatan Allah yang Tak Terhingga. pdf
Mujaddid Masih Mahdi. pdf
Mubahalah dan Hakekatnya. pdf
Tatanan Dunia Baru Menurut Islam.pdf
Tiga Masalah Penting.pdf
Baru Di Upload ...!!!
Perkembangan Ahmadiyah Di Perancis, Jerman dan Inggris.pdf
Catatan :
Bila Ada Buku yang tidak bisa di download harap pemberitahuannya yang mau rekues buku juga bisa
Mujaddid Masih Mahdi. pdf
Mubahalah dan Hakekatnya. pdf
Nyatakanlah Karunia-Karunia Ilahi. pdf
Penjelasan Tentang Fatwa Aliran Ahmadiyah.pdf
Silsilah Ahmadiyah.pdf
Tazkirah Indonesia.pdfPenjelasan Tentang Fatwa Aliran Ahmadiyah.pdf
Silsilah Ahmadiyah.pdf
Tatanan Dunia Baru Menurut Islam.pdf
Tiga Masalah Penting.pdf
Baru Di Upload ...!!!
Perkembangan Ahmadiyah Di Perancis, Jerman dan Inggris.pdf
Catatan :
Bila Ada Buku yang tidak bisa di download harap pemberitahuannya yang mau rekues buku juga bisa
Jangan Sampai Terlewat Kami Akan Mengupload Buku-Buku selanjutnya
Jazakumullah atas informasinya
Kamis, 19 Januari 2017
Konsep Islamiah Jemaat Ahmadiyah
Dalam perjalanan ke Nigeria pada tahun 1988, Hazrat Mirza Tahir
Ahmad, Khalifatul Masih IV dari Jemaat Islam Ahmadiyah telah diundang oleh BTV
yaitu stasiun televisi Nigeria untuk mengikuti serangkaian wawancara yang
ditayangkan, dimana sejumlah pertanyaan berkaitan dengan Islam dan Ahmadiyah
telah dikemukakan. Berikut ini adalah jawaban terhadap beberapa pertanyaan yang
dilontarkan presenter BTV dalam beberapa sesi tersebut. Penterjemah: A.Q.Khalid
Apa saja isi pengakuan dari pendiri Jemaat Ahmadiyah?
Hazrat Mirza Tahir Ahmad:
Pada esensinya, pernyataan atau pengakuan dari pendiri
Jemaat ini ialah bahwa beliau telah ditunjuk Allahswt sebagai Pembaharu dari masa kini.
Pada dasarnya itulah pengakuan beliau, namun hal itu mencakup berbagai aspek
lainnya.
Dalam kenyataannya, zaman kini yang dalam kitab-kitab
berbagai agama disebut sebagai ‘Akhir Zaman’ adalah suatu periode yang dinubuatkan
oleh berbagai agama tentang akan datangnya seorang Pembaharu yang akan membawa Zaman
Keemasan umat manusia dalam bentuk persatuan global.
Bangsa Hindu menganggapnya sebagai kemunculan kembali Krishna,
umat Yahudi masih tetap menunggu kedatangan seorang Messiah. Yesusas sendiri menubuatkan bahwa beliau akan
datang lagi, sedangkan Nabi Muhammadsaw menubuatkan bahwa di akhir zaman akan muncul seorang Pembaharu
dalam dua bentuk penampilan. Yang satu akan muncul dengan sebutan Al-Mahdi sedangkan
yang lainnya dengan sebutan Al-Masih atau Masih ibnu Maryam. Pertanyaan
mendasar yang patut dikemukakan adalah apakah para Pembaharu yang dinubuatkan
itu akan datang secara bersamaan atau hanya satu nubuatan saja yang akan
terpenuhi dimana yang lainnya lalu dianggap sebagai palsu? Di sisi lain, jika semua
nubuatan itu benar adanya dan setiap Pembaharu itu muncul dengan namanya
sendiri-sendiri, apakah hal ini tidak akan menimbulkan konflik keagamaan
berlandaskan nama Tuhan? Skenario demikian tidak saja tak mungkin dipertahankan,
tetapi juga tidak masuk akal. Kecuali jika orang berpandangan seperti halnya
perspektif
Jemaat Ahmadiyah yaitu hanya ada satu Pembaharu yang
muncul di Akhir Zaman yang menyandang berbagai sebutan untuk mewakili semua
Pembaharu yang dinubuatkan tersebut. Hanya dengan cara itulah upaya pemersatuan
semua agama bisa terlaksana. Sejalan dengan pengakuan dari Al-Masih yang Dijanjikan
yang adalah juga pendiri Jemaat Ahmadiyah, sosok yang menjadi Pembaharu
tersebut haruslah seorang Muslim pengikut ajaran Al-Quran dan Sunnah Rasulullahsaw. Begitu juga sang Pembaharu itu
adalah satu orang yang sama yang menyandang sebutan sebagai Imam Mahdi dan juga
Al-Masih. Menurut pendiri Jemaat Ahmadiyah tersebut, sosok Pembaharu ini mewakili
semua Pembaharu yang telah dinubuatkan berbagai agama lainnya dan ia akan membawa
reformasi kemanusiaan.
Singkat kata, penafsiran Ahmadiyah atas semua nubuatan
awal tersebut ialah hanya ada satu saja sosok Pembaharu tersebut dan bukannya berbentuk
berbagai Pembaharu yang muncul secara berbeda untuk setiap agama. Sosok
Pembaharu yang satu ini akan mewakili semua Pembaharu yang telah dijanjikan tersebut.
Apakah anda maksudkan bahwa Pendiri Jemaat tersebut merupakan Nabi
yang terakhir?
Hazrat Mirza Tahir Ahmad:
Bukan,
bukan begitu masalahnya. Dalam agama Islam, istilah ‘Nabi terakhir’ bersifat teknis
sekali dan hanya bisa dikenakan kepada Nabi Muhammadsaw saja. Beliau disebut ‘terakhir’
dengan pengertian bahwa Kitab atau ajaran yang dibawa beliau adalah ajaran
terakhir dan beliau adalah Guru terakhir yang patut diikuti manusia. Siapa pun yang
muncul sebagai murid Hazrat Rasulullah saw sama sekali tidak bisa lalu menjadi Nabi yang berbeda atau
bersifat independen. Sepanjang menyangkut masalah kewenangan maka Nabi terakhir
yang memilikinya hanyalah Nabi Muhammadsaw saja. Posisi dari Mirza Ghulam Ahmadas dari Qadian adalah sebagai ‘Mahdi’
(orang yang mendapat petunjuk).
Jemaat Ahmadiyah disebut demikian rupanya mengikuti nama
Pendirinya. Pertanyaan yang muncul ialah jika kita beriman kepada Nabi
Muhammad, pada umumnya kita tidak menyebut diri sebagai ‘Muhammadi.’
Kelihatannya seperti ada kontradiksi disini, mengapa anda mempersonifikasikan nama
jemaat anda?
Hazrat Mirza Tahir Ahmad:
Salah satu masalah yang perlu dijernihkan terlebih dahulu
adalah tentang definisi. Bagaimana Jemaat Ahmadiyah akan dipandang, apakah
sebagai agama atau sebagai sekte (mazhab)? Dalam agama Islam, umat Muslim
terbagi dalam berbagai sub-title seperti Brailwi, Wahabi, Sunni, Shiah, Maliki,
Hambali, Syafei dan lain-lain. Yang menjadi pertanyaan, mengapa ada pemilahan
seperti itu dalam Islam?
Mereka semua eksis bukan sebagai indikasi bahwa mereka
agamanya berbeda, tetapi hanya sebagai gambaran dari adanya perbedaan pandangan
atau pendekatan terhadap agama Islam. Sepotong kata yang menjadi nama dari kelompok-kelompok
tersebut sudah akan menggambarkan pandangan atau keyakinan umum dari mereka yang
tergolong dalam sekte bersangkutan.
Hal ini jadinya memudahkan identifikasi dan perkenalan ketika
seseorang ditanya tentang keyakinannya. Dari pada setiap kali ditanya lalu yang
bersangkutan harus menjelaskan panjang lebar keyakinan dirinya dan kepada sekte
mana ia berafiliasi, satu kata saja sudah cukup menggambarkan keyakinan umum
dari seseorang, seperti apakah ia dari Sunni, Wahabi atau Shiah misalnya.
Anda menyatakan bahwa harus ada suatu distinksi di antara anda
sekalian dengan umat Muslim lainnya.
Mengapa harus ada pembedaan demikian?
Hazrat Mirza Tahir Ahmad:
Pendiri Jemaat Ahmadiyah sendiri sudah menjelaskan
signifikasi dari sebutan Ahmadiyah ini. Beliau menyatakan dan hal ini diakui
juga oleh semua Muslim, bahwa Nabi Muhammadsaw mempunyai dua nama berkaitan dengan diri beliau yaitu ‘Muhammad’
dan yang kedua ialah ‘Ahmad.’ Nama beliau sebagai ‘Muhammad’ bahkan disebut
dalam Kitab Perjanjian Lama, sedangkan nama ‘Ahmad’ disebut dalam Perjanjian
Baru sebagai ‘Paraklet’ (yang artinya sama dengan kata Ahmad).
Dalam penampilan pertama sebagai Nabi Muhammad, muncul
manifestasi penuh dari fitrat pertama beliau sebagai ‘Muhammad.’ Pada akhir
zaman adalah fitrat kedua yaitu ‘Ahmad’ yang akan mengemuka secara penuh. Namun
karena akhir zaman juga diasosiasikan dengan kedatangan Al-Masih maka tepat
sekali nama yang digunakan Yesusas sebagai gambaran nama beliau saat kedatangan kedua kali yaitu
sebagai Al-Masih yang mewakili Islam di akhir zaman, dan nama itu adalah ‘Ahmad.’
Perbedaan di antara kedua nama ‘Muhammad’ dan ‘Ahmad’ ialah kata ‘Muhammad’
menggambarkan kekuatan dan kejayaan seperti halnya saat dimanifestasikan pada saat
kemunculan Nabi Musaas. Nabi Muhammadsaw mirip dengan Nabi Musaas dalam keagungan, kekuatan dan
kejayaan. Nabi Muhammadsaw berjaya
dalam kemenangan semasa hidup beliau. Namun situasinya berbeda pada saat
Al-Masih dimana manifestasinya berbeda sama sekali. Dalam hal ini yang menonjol
bukanlah kekuatan dan kejayaan dari keagungan, tetapi keteguhan hati dalam
menghadapi gelombang penganiayaan yang digabung dengan upaya damai dalam mengajak
manusia lainnya secara persuasif dan dengan cinta kasih.
www.ahmadiyya.or.id
Penjelasan Rukun Islam Oleh : Hz. Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Oleh
: Hz. Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Penterjemah:
A.Q. Khalid
Yang
dikemukakan di bawah ini adalah kompilasi ekstraksi yang diambil dari Malfuzat.
Malfuzat adalah judul dari sepuluh jilid buku yang berisi kumpulan diskursus,
khutbah dan nasihat Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as. dari Qadian, Masih Maud
dan Imam Mahdi.
Ingatlah
selalu bahwa bila seseorang menyatakan kalau ia beriman pada Tuhan yang Maha
Esa, yang tanpa sekutu, serta beriman kepada Rasulullah Muhammad saw. serta
meyakini segala hal lain berkaitan dengan agama, tetapi realitasnya pernyataan
itu hanya merupakan ucapan di bibir semata dan hatinya tidak mengakuinya, maka
pernyataan demikian tidak akan membawa keselamatan baginya.
Keselamatan
tidak akan diperoleh sampai suatu saat hati telah mengimani dan hal demikian
menjadi nyata jika perilaku dan amal perbuatan yang bersangkutan
membuktikannya. Sampai keadaan demikian tercapai, tidak ada sesuatu yang telah
dicapai. Sesungguhnya aku nyatakan dengan sebenarnya bahwa tujuan hakiki baru
akan bisa tercapai jika seseorang yang berpaling kepada Tuhan telah
meninggalkan segala yang akan menjadi gangguan, ketika agama sudah diberikan
prioritas utama di atas segala aktualitas duniawi.
Ingatlah!
Seseorang bisa saja menipu mahluk lainnya. Orang bisa terkecoh pandangannya
melihat seseorang melakukan shalat lima kali sehari atau melakukan beberapa
amal baik lainnya, namun Tuhan tidak bisa ditipu. Karena itu amal saleh harus
dilakukan dengan ketulusan yang murni karena hal inilah yang menambah keindahan
dari amal tersebut.
Patut
selalu diingat mengenai makna dari Kalimah Shahadat yang kita ucapkan setiap
hari. Dengan Kalimah itu seseorang mengikrarkan secara lisan dan bersaksi
dengan hatinya bahwa baginya sang Maha Esa yang patut disembah dan dikasihi
adalah Wujud Tunggal yang menjadi tujuan hakiki adalah Allah swt dan tak ada
sesuatu apa pun selain Dia. Arti kata Ilaha dalam Kalimah tersebut mengandung
makna ‘yang terkasih’, ‘wujud yang menjadi tujuan hakiki’ dan ‘wujud yang
disembah dan dihormati.’ Pernyataan itu merupakan inti keseluruhan ajaran
Al-Quran dalam bentuk paling padat yang diajarkan kepada umat Muslim. Karena
tidak mudah menghafal kitab yang demikian tebal dan rinci, Kalimah ini
diajarkan agar setiap orang tetap bisa memelihara esensi ajaran Islam secara
konstan dalam fikirannya. Sesungguhnya sebelum semua realitas itu berakar dalam
kalbu manusia, maka tidak ada keselamatan baginya. Karena itulah Hazrat
Rasulullah saw. menyatakan: ‘Barangsiapa yang mengikrarkan bahwa tidak ada
tuhan selain Allah, ia akan masuk surga.’ Dengan kata lain, seseorang yang
sepenuhnya mengimani ‘la ilaha illallah’ maka ia akan masuk ke dalam surga.
Sebenarnya
manusia menipu dirinya sendiri jika mengira bahwa mengulang-ulang suatu kata
seperti burung beo, akan memberi mereka kemudahan masuk surga. Jika realitas
memang demikian adanya maka semua amal akan menjadi mubazir dan sia-sia dan
Shariah bisa dianggap, naudzubillah, tidak relevan. Nyatanya tidak demikian adanya.
Yang patut diperhatikan ialah makna yang terkandung di dalamnya haruslah
meresap ke dalam hati saat pengamalannya. Jika hal ini bisa tercapai maka benar
bahwa yang bersangkutan telah masuk surga, bukan setelah kematian, tetapi
sekarang juga dalam kehidupan kini yang bersangkutan telah memasuki surga.
(Malfuzat, vol. 9, h.102 – 104)
Setelah
itu perhatikanlah bahwa yang kedua adalah Shalat, yang diwajibkan dan
berulang-kali ditegaskan oleh Al-Quran. Ingatlah juga bahwa Al-Quran menegur
mereka yang menegakkan Shalat tetapi tidak memahami makna daripadanya dan tetap
saja bersikap kejam kepada sesama manusia. Shalat dalam realitasnya adalah
permohonan kepada Allah swt agar Dia menjaga kita dari segala keburukan dan
perbuatan jahat. Manusia sesungguhnya berada dalam keadaan menyedihkan dan
kesepian dimana ia mendambakan kedamaian dan kepuasan kalbu yang merupakan
hasil bawaan dari keselamatan. Namun keselamatan demikian tidak mungkin dicapai
hanya dengan kecerdikan atau keterampilan seseorang. Sampai dengan Tuhan telah
memanggil maka tidak ada yang bisa menghadap kepada-Nya, sampai dengan Dia
mensucikan maka tidak ada orang yang disucikan.
Banyak
yang menjadi saksi atas realita bahwa seringkali manusia menginginkan dirinya
bersih dari segala dosa, namun tidak juga berhasil meski telah berulangkali
berupaya melakukannya. Meski kesadaran dirinya, Nafsi Lawwama, yaitu semangat
yang menegur dirinya sendiri telah mengingatkan, tetapi tetap saja ia gagal dan
tergelincir kembali. Dari sini bisa disimpulkan bahwa pensucian seseorang dari
segala dosa adalah kinerja Tuhan adanya. Manusia tidak mungkin mencapai hal itu
hanya atas dasar upayanya sendiri. Namun memang harus diakui bahwa upaya ke
arah tersebut merupakan hal yang mutlak harus dikerjakan.
Shalat
adalah untuk membasuh batin yang penuh dengan dosa serta telah melenceng jauh
dari Tuhan. Adalah untuk mendekatkan ruh kepada Tuhan maka ada sarana yang
bernama Shalat, melalui apa kejahatan bisa dipupus dan kalbu diisi dengan
perasaan dan emosi yang suci. Inilah yang mendasari pernyataan bahwa Shalat
memupus segala keburukan atau mencegah seseorang melakukan suatu yang tidak
pantas atau tidak berakhlak.
Lalu
apa yang dimaksud dengan Shalat? Itu adalah laku doa yang penuh dengan
kepedihan dan karena itu disebut Shalat. Permohonan yang diajukan kepada Tuhan
dilakukan dengan memelas dan kesedihan agar Tuhan mau mengangkat segala fikiran
buruk, perasaan jelek dan emosi negatif dari kalbu seseorang dan Dia mau
mensucikannya dari dalam dirinya dengan cara menciptakan kasih hakiki sebagai
gantinya melalui berkat dan rahmat-Nya.
Kata
Shalat menunjuk kepada kenyataan bahwa doa tidak cukup hanya dengan lisan saja,
karena haruslah kata-kata doa itu dilambari dengan perasaan gelisah dan
khawatir. Tuhan tidak akan mendengarkan doa seseorang sampai yang bersangkutan
mencapai tingkatan seperti akan mati rasanya (karena kegelisahan memohon di
hadapan Tuhan). Sesungguhnya doa itu sulit dan kebanyakan orang tidak memahami
hakikatnya. Banyak orang telah menyurati diriku mengatakan bahwa mereka telah
berdoa untuk sesuatu tetapi doa mereka tidak membawa efek apa-apa sehingga
akhirnya mereka berpandangan negatif terhadap Tuhan mereka dan mereka galau
oleh perasaan putus asa. Mereka tidak memahami bahwa doa yang tidak diikuti
persyaratan lainnya itu, sulit akan mendapat manfaatnya.
Salah
satu persyaratan doa ialah hati itu harus demikian luluh sehingga mencair dan
mengalir seperti air yang menuju ke kaki Tuhan yang Maha Agung, diikuti
perasaan pedih dan gelisah. Yang bersangkutan jangan sampai tidak sabar dan
mengharapkan hasil segera. Ia harus terus menerus berdoa dan kesabaran serta
beristiqomah. Barulah setelah itu bisa mengharapkan doanya dikabulkan.
Shalat
merupakan doa pada tingkat yang amat tinggi. Menyedihkan sekali bahwa manusia
belum memahami nilainya dan mereka menganggapnya hanya sebagai gerakan-gerakan
tegak, membungkuk dan sujud diikuti dengan bacaan rapalan seperti burung beo,
mengerti atau tidak mengerti artinya. Yang menyedihkan juga ialah umat Muslim
zaman ini tidak lagi mengenali fitrat hakiki daripada Shalat dan malah tidak
melakukannya secara teratur. Bahkan ada golongan yang malah meninggalkan Shalat
untuk diganti dengan beberapa rapalan atau pengulangan beberapa kata-kata. Dari
antara golongan itu adalah Noshahi dan Chashti serta beberapa lainnya.
Orang-orang seperti itu sebenarnya menyerang agama Islam dan ajarannya dari
dalam, setelah itu karena telah menjauh dari disiplin Islam, lalu mencoba
menciptakan Syariah baru.
Ingatlah
selalu dengan pasti bahwa kita ini tidak memerlukan adanya inovasi baru jika
kita dan semua pencari kebenaran telah diberkati dengan Shalat. Setiap kali
Hazrat Rasulullah saw. dihadapkan pada kesulitan dan musibah, beliau pasti
segera mendirikan Shalat. Pengalaman kita sendiri dan mereka yang mencari
kebenaran menunjukkan bahwa tidak ada yang lebih baik daripada Shalat untuk
membawa seseorang mendekat kepada Tuhan.
Ketika
seseorang berdiri dalam Shalat, ia itu mengambil sikap hormat. Jika seorang
sahaya berdiri di hadapan tuannya, tentulah ia berdiri dengan tangan
bersidekap. Posisi membungkuk juga merupakan laku hormat yang lebih tinggi
derajatnya dari berdiri tegak, sedangkan sujud menjadi bentuk penghormatan yang
paling tinggi tingkatannya. Jika seseorang sedang dalam keadaan pasrah
sepenuhnya, ia akan mengambil laku sujud. Celakalah orang-orang tolol dan
duniawi yang ingin mempersingkat Shalat serta berkeberatan untuk membungkuk
atau pun sujud. Padahal jsuteru hal-hal tersebut merupakan aspek yang terpuji.
Sampai seseorang menyadari sepenuhnya akan kawasan dari mana Shalat diturunkan
maka selama itu juga ia tidak akan memperoleh apa-apa. Namun bagaimana mereka
yang tidak beriman kepada Allah swt akan bisa meyakini manfaat Shalat?
(Malfuzat, vol. 9, h.108 – 110)
Rukun
Islam ketiga adalah Puasa. Pada umumnya manusia tidak menyadari fitrat hakiki
daripada laku puasa, samanya seperti orang yang belum pernah bepergian ke suatu
negeri maka ia tidak akan bisa menceritakan kondisinya. Yang dimaksud dengan
laku puasa bukan hanya asal lapar dan haus saja. Puasa memiliki realitas dan
efek yang hanya bisa diketahui melalui pengalaman. Sudah menjadi fitrat manusia
bahwa tambah sedikit yang dimakannya maka tambah tinggi derajat pensucian
ruhani yang bisa dicapainya serta bertambah kapasitasnya untuk mendapatkan
kashaf. Apa yang dikehendaki Tuhan dalam hal ini adalah mengurangi asupan jenis
makanan yang satu dan meningkatkan asupan jenis ‘makanan’ lainnya. Seseorang
yang berpuasa harus selalu mencermati hal ini bahwa tujuan daripada berpuasa
bukanlah semata-mata melaparkan diri tetapi perlu baginya membagi waktu untuk
zikir Ilahi agar ia bisa meninggalkan kehidupan duniawi dan berpaling kepada
Tuhan. Dengan demikian makna laku puasa adalah dengan mengkaliskan satu jenis
makanan yang menghidupi tubuhnya ia akan memperoleh jenis ‘makanan’ lain yang
menghidupi dan memuaskan ruhaninya.
Orang
yang berpuasa demi Tuhan-nya dan bukan karena tradisi atau adat kebiasaan, ia
sepatutnya menyibukkan diri dengan tasbih dan takbir Ilahi disamping merenungi
dirinya sendiri agar jenis ‘makanan’ yang lain itu dikaruniakan pula kepadanya.
Begitu
juga dengan ibadah Haji yang menjadi rukun Islam keempat. Yang dimaksud dengan
ibadah Haji bukan hanya semata agar seseorang meninggalkan negerinya, berlayar
melalui lautan, melantunkan beberapa rapalan dan kemudian pulang. Realitas
daripada Haji sesungguhnya amat luhur dan menggambarkan titik tertinggi dalam
tingkat hubungan seseorang dengan Allah swt.
Masalah
ini patut dipahami bahwa ketika seseorang menjauhkan dirinya dari nafsu duniawi
maka dirinya itu berharap bisa karam sepenuhnya dalam kasih Ilahi. Gairah dari
kasih demikian akan berkembang sampai kepada suatu tingkatan dimana kesulitan
perjalanan atau pun mara bahaya atas diri dan harta miliknya atau juga keterpisahan
dari yang dikasihinya tidak lagi menjadi sesuatu yang berarti baginya.
Sebagaimana seseorang yang siap mengurbankan segalanya bagi sang kekasih,
begitu juga halnya dengan orang yang mencintai Tuhan sama siap melakukannya.
Contoh simbolis dari bentuk hubungan demikian tergambar dalam laku Haji.
Sebagaimana
seseorang yang kasmaran mengitari kekasihnya, begitu juga yang dilakukan orang
saat tawaf sekeliling Ka’abah pada pelaksanaan ibadah Haji. Masalah ini pelik
dan halus sekali. Sebagaimana ada sebuah Baitullah (Rumah Tuhan) di bumi,
begitu juga yang sama ada di atas sana. Kalau kita tidak bertawaf juga pada
yang di atas itu maka tidak ada manfaatnya tawaf yang dilakukan di bumi dan
karena itu tidak ada ganjarannya. Keadaan tawaf yang dilakukan pada ‘orbit’
yang lebih tinggi itu haruslah sama seperti yang terlihat di bumi dimana orang
hanya menggunakan pakaian yang paling mendasar. Mereka yang bertawaf pada
Baitullah yang luhur juga sama harus menanggalkan ‘pakaian’ keduniawian dan
berlaku merendahkan diri dan lembut hati serta melakukan tawaf dengan hati
penuh kecintaan. Tawaf merupakan simbol dari kecintaan kepada Tuhan yang
sangat, dimana seseorang melakukan tawaf mengitari wujud keridhaan Ilahi, dan
tidak ada tujuan lain dari laku demikian.
Begitu
pula halnya dengan Zakat. Banyak orang yang membayar Zakat tetapi melakukannya
tanpa memahami apa yang mereka kerjakan. Jika seekor babi atau anjing
disembelih dengan cara Islam, tidak akan menjadikan dagingnya lalu menjadi
halal.
Arti
kata Zakat merupakan derivasi dari kata tazkia (yang artinya mensucikan).
Sucikanlah harta kalian dan bayarkan Zakat dari sana. Ia yang memberikan dari
harta yang disucikan sesungguhnya menegakkan kebenaran. Adapun ia yang tidak
membedakan antara Halal dan Haram, sesungguhnya ia jauh dari marifat.
Ajaran Yahudi, Kristen dan Islam: Sebuah Kesamaan Tradisi
22
Desember 2005 – The Review of Religions, October 1992
Oleh
: Arshad Khan
Penerjemah
: Qurrotul Ain
Sumber
: http://www.alislam.org/library/links/00000129.html
Publikasi
oleh : www.ahmadiyya.or.id
Dunia Timur Dekat kuno-khususnya di wilayah – wilayah di
Mesir dan tanah – tanah di timur laut Mediterania ( Asiria dan Media) awalnya
didominasi dunia politeisme, yaitu pada abad ke-7 SM (Historical Atlas of the
World, hal. 3). Penduduk di tanah-tanah tersebut memuja berbagai macam dewa.
Beberapa dewa dihubungkan dengan kesejahteraan di kota kecil maupun besar di
lokasi daerah tertentu, sepeti dewa Marduk di Babilionia atau dewa Ra
Heliopolis di Mesir. Beberapa dewa lainnya juga dianggap bertanggung jawab
dalam memenuhi kehidupan dan kesejahteraan manusia selama waktu perang dan
keadaan tidak aman – sepeti dewa Bal untuk orang – orang kanaan dan dewa Ishtar
untuk orang – orang Babilonia dan Asiria. (The Heritage of World Civilizations,
hal. 54)
Diantara berbagai kelompok budaya dan keyakinan
politeisme, munculah sebuah tradisi besar yang selanjutnya mempersatukan
pondasi 3 agama besar di dunia: agama Yahudi, Kristen dan Islam. Tiga agama ini
dapat dihubungkan dengan satu tradisi agama yang secara umum memiliki kaitan
dengan masa kenabian Ibrahim. Tradisi pokok beragama ini membentuk dasar solid
yang darinya tiga agama ini telah dibangun di atas rangkaian sejarah dan darinya
masing- masing agama telah membangun keyakinan – keyakinan serta cita –cita
berbeda dan membuat mereka terlepas satu sama lain.
Perbedaaan fundamental yang memisahkan tradisi beragama 3
agama dapat dipersatukan dengan konsep monotheisme:
keimanan kepada sesuatu yang tunggal, Tuhan Yang Maha
Perkasa satu-satunya Sang Pencipta), Maha Pemberi dan Maha Menguasai alam
semesta. (Ibid hal . 56)
Hal itu benar – benar belum jelas terbukti, kapan doktrin
pertama muncul dalam kehidupan. Para ahli sejarah pada umumnya setuju bahwa
konsep awal monotheisme telah menunjukkan suatu penampakan yang jelas di antara
sebuah suku nomadik (pengembara) yang disebut kaum Hebrew. (Ibid hal 56) pada
dasarnya, kesamaaan tradisi beragama yang dimiliki agama Islam, Kristen dan Yahudi
dapat dihubungkan dengan kaum ini. Pemahaman lebik baik tentang sejarah suku
ini bisa bermanfaat di dalam memahami secara umum asal mula agama – agama
monotheisme saat sekarang.
Tidak ada catatan berharga tentang kehidupan orang – orang
Hebrew. Meskipun demikian, para cendekiawan setuju dengan catatan-catatan yang
berhubungan dengan kitab injil yaitu migrasi kaum Hebrew ke wilayah Timur Dekat
Mesopotamia adalah masuk akal dan sesuai pula dengan yang diketahui secara umum
jika telah ada perjalanan migrasi yang dilakukan oleh suku – suku semi –
nomadic. ( Ibid, hal 57) Tradisi – tradisi bersejarah dan bernilai agama
menyebutkan bahwa Bapak Ibrahim berasal dari Mesopotamia dan telah bermigrasi
ke timur bersama pengikutnya, kaum Hebrew, mereka menempati daerah sepanjang
pantai timur laut Meditarania, di area yang sekarang dikenal sebagai Palestina.
(Ibid, p. 56)
Ibrahim telah membawa ide – ide keyakinan monotheisme, ide
yang kemudian akan terbukti terus bertahan dalam kurun waktu yang panjang di
area ini. Keyakinan monotheisme menekankan pada tuntutan-tuntutan moral dan
tanggung jawab - tanggung jawab individu dan masyarakat terhadap
penyembahan Kepada Tuhan, Sang Maha Penguasa segala sesuatu. Terlebih lagi,
keyakinan pada Tuhan Yang Satu menekankan pada ide bahwa Tuhan telah membuat
rencana rohani untuk sejarah manusia, dan tindakan – tindakan dan cita – cita
orang – orang pilihan-Nya adalah ikatan yang tak bisa lepas dari rencana rohani
ini. (Ibid, hal C-1) Pada puncaknya tradisi ini menempatkan Ibrahim diakui
sebagai pendiri kepercayaan monotheisme oleh pengikut tiga agama tersebut:
Islam, Yahudi dan Kristen. Para pengikut Ibrahim mewariskan tradisi ini dari
generasi ke generasi, memperkuat dan menyatukan semua orang di tanah Palestina
dengan kepercayaan kepada Tuhan dan dengan perjanjian yang telah dibuat oleh
orang – orang pilihan-Nya. Pada abad ke – 13 SM peranan Musa telah terbukti
menjadi sebuah kekuatan persatuan besar yang sungguh benar – benar menempa
bangsa Israel. Selama kurun waktu Musa, konsep perjanjian ini diulang-ulang dan
ditempatkan kembali diantara keturunan Ibrahim.
Pentingnya Perjanjian ini dapat dikenal secara dekat dengan analisa
scriptural (dari kitab-kitab suci) tiga agama tersebut. Tiga cabang keyakinan
monoteisme yang pada awalnya dikenalkan oleh Ibrahim di daerah Palestina
tersebut, mengakui dan mencatat peristiwa – peristiwa tersebut di dalam tulisan
– tulisan agama mereka:
“Dan Musa menuliskan semua firman – firman Tuhan, dan bangun pada pagi
awal dan membangun sebuah altar di bawah bukit, dan dua belas pillar (tiang)
sesuai dengan jumlah 12 suku Bani Israil …dan Musa mengambil sebagian darah
seekor lembu jantan , menempatkan di dalam sebuah wadah lalu memercikan
sebagian lain darah tersebut di atas altar. Dan dia mengambil kitab perjanjian
dan membacakannya di depan orang – orang yan hadir: lalu mereka mengatakan,
semua yang difirmankan atas nama Tuhan akan kami laksanakan dan mereka taat.”
(Keluaran: 24: 4, 6, 7)
Hal yang sama juga dikenal di dalam agama Islam yaitu perjanjian kaum
Hebrew dengan Tuhan. Disebutkan di dalam Quran Suci, kitab suci kaum Muslim;
bahwa mereka harus mengingat ketika sebuah perjanjian dengan Tuhan telah
diambil oleh sekelompok manusia:
Hai Bani Israil , ingatlah akan ni’mat-Ku yang telah Aku anugerahkan
kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku , niscaya Aku penuhi janji-Ku
kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut. ( Alquran: 2: 41)
Hai Bani Israil, ingatlah akan ni’mat-Ku yang telah Aku anugerahkan
kepadamu dan bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat. (Alquran:
2:48).
Dan, ketika Kami berikan kepada Musa Al Kitab dan keterangan yang
membedakan antara yang benar dan yang salah, agar kamu mendapat petunjuk.
(Alquran: 2:54)
Dan, ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung
di atasmu : “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah
selalu apa yang ada didalamnya, agar kamu bertakwa. (Alquran: 2:64)
Kebutuhan mengutip catatan – catatan dari bagian kitab-kitab ini selanjutnya
terlihat ketika seseorang berusaha menghubungkan dan membandingkan keyakinan –
keyakinan pokok lainnya di dalam 3 agama ini. Salah satunya adalah ketika
tradisi yang dibawa Ibrahim lalu diperkuat dan ditempatkan kembali oleh Musa
muncul dan dikenal oleh 3 agama ini. Ini adalah point lazim yang ada di dalam
keyakinan tiga agama tersebut: Penegasan dan pengakuan tentang perjanjian yang
telah dibuat oleh kaum Hebrew di Palestina dengan Tuhan. Hal yang membentuk
pondasi dasar untuk agama – agama monotheisme.
Ada kesamaan lain lagi yang ada diantara 3 agama ini yaitu kedekatan
kekerabatan secara geografi. Hal itu bukan suatu kebetulan. 3 agama terbesar di
dunia ini memiliki asal muasal keturunan yang sama. Adalah kenyataan jika
Ibrahim adalah bapak agama bagi 3 agama besar ini juga ditandai dengan tempat
dimana beliau hidup dan beliau mengarahkan kaumnya akan sebuah tempat dimana 3
agama ini akan menuju. Daerah Timur Dekat , terdiri dari daerah Palestina,
Semenanjung Sinai, Semenanjung Arabia (khususnya sebagian wilayah bagian
utara), dan daerah – daerah lainnya yang pada saat ini dikenal dengan nama
Turki dan Yunani- pada dasarnya mewakili tempat lahirnya 3 kepercayaan besar
ini.
Masih ada kesamaan lain diantara 3 agama ini yaitu keyakinan dan cita
– cita yang dicapai melalui doa dan permohonan, serta penegakkan hubungan
dengan Tuhan yang dapat menentukan kebaikan di dalam kehidupan dan menciptakan
rasa damai terus menerus serta rasa ketenangan diri sendiri. Ini adalah akar pokok
semua ibadah agama monoteisme. Sang Maha Pencipta dipandang sebagai wujud yang
nyata secara aktif mengawasi tindakan – tindakan dan perbuatan- perbuatan
mahluk-mahluk ciptaan-Nya: demikian pula keyakinan tentang akan kembalinya
semua ciptaan kepada-Nya dan pada akhirnya berkumpulnya manusia kepada Sang
Pemurah dan Sang Penyayang. Pada dasarnya tujuan Tuhan menciptakan umat manusia
adalah karena suatu alasan baik:
Mereka diperintahkan untuk bersikap adil dan baik seperti halnya Sang
Pencipta, karena mereka dilibatkan untuk memenuhi tujuan penciptaan oleh-Nya.
(Craig, Albert, [The Heritage of World Civilizations, hal. 60])
Konsep ini diilustrasikan dalam firman Tuhan kepada orang – orang
Israel di dalam injil.
“Aku akan meletakkan hukumku dengan mereka, dan Aku akan menuliskannya
di dalam hati mereka: Aku akan menjadi Tuhan mereka dan mereka akan menjadi
pengikut-Ku.” (Yeremiah:31:33)
Tujuan Tuhan menciptakan manusia menurut keyakinan-keyakinan
monoteisme, adalah mengangkat dan meninggikan derajat manusia yang melakukan
perbuatan mulia dan berahklak unggul. Hal ini bisa dicapai seseorang atau
sekelompok orang dengan pemahaman jika mereka tercipta untuk suatu tujuan
kerohanian dan hal itu merupakan takdir penciptaannya. Orang orang yang beriman
diharapkan mengikuti ajaran – ajaran yang diberikan kepada mereka melalui kitab
– kitab suci mulia mereka dan mengimani tokoh – tokoh seperti Ibrahim, Musa dan
nabi- nabi lainnya yang telah diberi wahyu dan diberi petunjuk oleh Tuhan serta
mendapatkan tugas membimbing dan memperbaiki manusia. (Craig, Albert,[The
Heritage of World Civilizations, hal. 59])
Kepercayaan – kepercayaan yang telah disebutkan terdapat di dalam
keyakinan tiga agama tersebut. Mereka sama – sama memiliki keyakinan tentang
kehidupan, rasa kebersukuran bahkan meyakini keberadaan Tuhan sebagai pembentuk
serta pengatur kehidupan dan tindakan tiap – tiap individu. Keyakinan –
keyakinan ini telah mempererat pondasi yang pada dasarnya sama pada semua
kepercayaan monoteisme yang juga bermula dari Ibrahim. Point kesamaan ini juga
dijalankan sebagai kekuatan pemersatu yang menyatukan semua bangsa Israel di
bawah satu keyakinan dan satu Tuhan.
Agama Islam dan Kristen juga memiliki kepercayaan – kepercayaan ini.
Mengakui Semenanjung Arabia dan daerah Palestina sebagai tempat yang dihormati,
kedua agama ini mempercayai wujud Isa sebagai penyambung tradisi. Lain halnya
dengan agama Islam dan Kristen yang mempercayai Isa sebagai Nabi dan sang
Reformer, orang – orang Yahudi tidak mengakuinya.
Disinilah kesepahaman dan kesamaan diantara 3 agama ini berakhir.
Islam dan Kristen kesamaannya dengan Yahudi terputus ketika keduanya menghormati
kesucian dan kebenaran Isa. Ketiga agama ini sama – sama mempercayai Musa,
namun hanya dua agama yang mengakui kebenaran Isa. Kesamaan antara Kristen dan
Islam berakhir keterkaitannya ketika Islam mengakui Nabi Suci Islam sebagai
nabi yang benar yang Tuhan telah datangkan setelah Agama Yahudi dan Agama
Kristen yang kepadanya pula Tuhan telah memberikan hukum terakhir-Nya yan akan
memberi petunjuk bagi seluruh umat manusia. Sedangkan, Yahudi dan Kristen
menolak pernyataan ini. Oleh karena itulah agama – agama ini terpisahkan, dan
kesamaan mereka berakhir ketika mereka berbeda pendapat tentang Isa as. dan
Muhammad pbuh. Hanya Islam yang mengakui orang – orang pilihan Tuhan dan semua
nabi dari penokohan 3 agama-agama ini, namun sebaliknya dengan dua agama
lainnya.
Tiga agama tidak lagi memiliki kesamaan keyakinan setelah kepercayaan
kepada Musa. Islam mengakui ketiganya, Kristen mengakui dua, sedangkan yahudi
hanya 1 nabi yang diakui.
Namun, semua memiliki akar yang dalam di dalam stuktur monotoisme. Tradisi
ini diakui sebagai tulang punggung masing – masing agama ini. Perjanjian yan
diambil oleh Ibrahim lalu diperkuat oleh Musa dianggap sebagai garis persamaan
antara tiga agama terbesar dunia. Kesamaan geografi dan sejarah asal muasalnya
membawa tiga agama ini kepada kebersamaan dan kesatuan perspektif. Keistimewaan
inilah yang membuat agama—agama ini sungguh sama.
Tradisi agung yang telah membangun tiga agama ini menghubungkan asal
muasal dan kelahirannya ke kelompok kecil orang – orang Hebrew, yang bergaya
hidup dan memiliki habit sederhana. Mereka bukan produk suatu kekuatan
kekaisaran ataupun kebesaran kekaisaran (Ibid, hal. 56). Tradisi ini telah
melahirkan banyak hasil setelah jangka waktu panjang. Tradisi ini berkembang
secara bertahap dan melalui proses yang lambat- bukan periode singkat melalui
pergolakan dan kekacauan berbau agama. Waktu berselang antara kedatangan Musa
dan Muhamad pbuh yaitu 19 abad (1300 SM – 600 M). Suatu rangkaian waktu yang
monumental untuk proses perubahan dan perkembangan di dalam dunia agama.
Dengan demikian, pemahaman yang tepat tentang asal muasal keyakinan
monoteisme ini, memungkinkan seseorang mengerti dengan jelas tentang keluasan
ajaran Yahudi, Kristen dan Islam yang juga bisa dipertimbangkan sebagai bagian
kesamaan beragama dan bertradisi kerohanian: yaitu suatu tradisi yang dikaitkan
dengan waktu jaman Ibrahim, seorang pengembara sahaja yang memimpin para
pengikutnya menuju sebuah hunian yang lebik baik.
* *
*
Langganan:
Postingan (Atom)